Responsive Banner design

selamat datang

Monggo di like

Islamic valentine day

“Islamic Valentine Day”
EMHA AINUN NADJIB

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari “agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan “islamisasi”,
“dakwah Islam”, “syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan “Negara Islam Indonesia” — yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa
diperlakukan hanya dengan diambil salah satu
unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk
mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.
Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan “Gosip Islami”,
“Lokalisasi Pelacuran Islami”, “Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami….

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam AlQur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal….

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang:
“…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing.

Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup.

Rasulullah memerintahkan pampasan perang,
berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun…. “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: “Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?”
Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: “Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua
gram…?”

Sumber : www.caknun.com

Mengapa ada pembenci?

Memang benar ucapan Ali bin Abu Thalib, "Tidak ada gunanya menjelaskan siapa dirimu, karena orang yang membenci takkan percaya, dan orang yang mencintai tak memerlukannya"

Yang namanya orang menuduh itu memang tak ada gunanya dijelaskan atau diklarifikasi, sebab dia sudah punya kesimpulan sendiri, dia bertanya hanya untuk menjatuhkan bukan mendapat keterangan, sebaiknya memang yang begini ditinggalkan saja

Yang namanya orang yang tak suka itu, ibarat mulut yang sariawan, diberikan seenak apapun makanan dia tetap tak suka, sebab masalahnya bukan pada makanannya tapi pada lidahnya yang sakit, yang begini didoakan saja

Yang namanya syaithan, targetnya membuat kita merasa lebih hebat dari yang lain, merasa lebih benar, merasa lebih beraqidah lurus, sedang selain kita, semuanya salah, semuanya bid'ah, semuanya sesat, sekali lagi doakan saja

Jalan dakwah ini memang berliku, hadangannya terjal, hambatannya banyak, dan bisa jadi bukan dari lawan ujian itu datang, tapi dari kawan. Ujian ukhuwah itu memang pada kawan, bukan lawan, istighfar saja, minta pada Allah keistiqamahan

Berdebat dengan yang berilmu, menang-kalah sama-sama menambah ilmu, tapi berdebat dengan yang tak berilmu, menang-kalah tetap saja maksiat yang didapat, alih-alih kebenaran, malah maksiat menanti sebab kita mungkin menyakiti orang

Tapi coba lihat diri kita sendiri, bila selama ini kita berbuat karena manusia, maka pujian manusia dan caciannya akan mempengaruhi diri kita. Tidak bila kita melakukan semua karena Allah, semua itu nothing, sebab Allah-lah semuanya

Jangan berhenti karena manusia, jangan berkarya karena manusia, bila dipuji kita bisa terjebak ujub dan riya, bila dicela kita jatuh dan patah arang. Lakukanlah karena Allah, jadilah yang terbaik dan berkaryalah agar manfaat kita yang dikenang

Jangan bosan memeluk, merangkul, berlembah lembut dengan saudaramu, karena Allah dan Rasul-Nya serius tentang surga yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang saling mencintai karena keagungan-Nya

Uhibbukum fillah, saudara-saudaraku yang karena Allah kita meniti jalan dakwah ini, semoga untaian rasa ini jadi peneduh di hari yang tak ada teduhan selain teduhan dari-Nya

Kisah inspiratif guru

Kisah inspiratif guru

sebagai guru profesional dan berkepribadian ;

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi

Dari kisah nyata seorang guru.Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.

Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”

“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”

Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.

Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh,

prepare dan

review dia lakukan dibangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.

Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”

Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”

Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,

“mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.

Kisah umar bin khattab

Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Akun kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!

Kisah ini disebut dalam kitab I'laam al-Naas Bi Ma Waqa'a Lil Bara...

Pentingnya halal

Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama

Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.

Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad rahimahullah menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?

Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut.  Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata,
“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”

Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”
(Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730)

Mari Kita Cari Keberkahan 🙏

Filosofi sepeda

FILOSOFI BERSEPEDA

Bagi yang suka sepeda dan menjiwai, tahu benar akan cerita berikut:

Ada tanjakan ada turunan …

Saat sedang menanjak, janganlah terlalu bernafsu mencapai puncak … atur nafas, atur tenaga, konstankan putaran … supaya efektif mencapai puncak … dan konsentrasi tetap ada untuk menghadapi turunan …

Saat sedang menurun … janganlah kaget hingga terlalu cepat menarik rem … kamu akan terjungkal dan makin terpuruk …

Ikuti alur jalannya … seimbangkan remnya … ambil momentum putarannya … hingga saat kamu menanjak kamu tidak membuang tenaga …

Bersepeda itu bukan masalah jumlah kilometer … tapi lebih pada menikmati setiap kayuhan untuk mendapatkan tiap kilometer itu …

Begitupula kehidupan … Hidup menarik bukan karena jumlah umur, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapatkan umur tersebut …

Bersepeda juga bukan masalah sepeda atau komponen yang ada di dalamnya … tapi bagaimana menggunakan sepeda dan komponen tersebut untuk mendapatkan perjalanan yang menarik … yang bisa kita nikmati, bisa kita ceritakan, bukan hanya menggunakan sepeda untuk kita banggakan harganya …

Begitu pula kehidupan … Kehidupan bukan masalah harta yang kita dapatkan, tapi bagaimana memaknai harga yang kita punya untuk membuat hidup kita lebih berharga secara batin, bukan hanya secara nominal …

Ada pepatah Jawa bilang, “urip kuwi golek jeneng … ojo golek jenang” …

Terjemahan bebasnya, “hidup itu cari nama bukan cari makan ...”, maksudnya hidup itu harus bermanfaat (bagi orang banyak) sehingga membuat nama yang baik, bukan hidup hanya cari harta, tapi tak membuat perbedaan apa-apa.

Sama dengan sepeda, buat apa punya sepeda kalau cerita yang kita punya hanya pada saat kita membelinya … bukan pada saat menaikinya … Bukankah menaikinya itu terlihat dan terasa lebih menarik …

“It is about the journey, not the destination …
Because life is a journey …”

Mitos keliru tentang Direct sales atau MLM

5 Mitos Keliru tentang Direct Sales

Mitos 1

99% pelaku usaha direct sales mengalami kerugiaan dan tidak berhasil

DS/MLM sendiri merupakan bidang usaha yang melindungi distributor dan konsumennya dengan Undang Undang dan kode etik, yang memberikan perlindungan kepada pelaku dan konsumen dengan “jaminan pembelian kembali (buyback guaranty)” dan bila Anda terlibat dalam perusahaan DS/MLM yang sah dan merupakan anggota APLI, maka Anda tidak perlu khawatir mengalami kerugian yang dimaksud. Perusahaan MLM/DS juga diwajibkan menyediakan pelatihan berkala agar distributor mampu mengelola usaha hingga mencapai sukses.

FAKTA :
Ada sekitar 92 juta pelaku usaha MLM di dunia, jumlah tersebut berkembang dari waktu ke waktu. 91% pelaku usaha MLM mengaku puas dengan pendapatan mereka atau mendapatkan keuntungan melebihi harapan mereka. (survey oleh Research International, Inc)

Mitos 2

Kunci sukses berhasil dalam direct sales adalah perekrutan anggota sebanyak banyaknya, lebih penting daripada penjualan kepada konsumen dan pelayanan

Tidak diragukan, perekrutan distributor merupakan elemen penting dalam DS/MLM, seperti usaha expansi dalam bisnis konvensional. Dalam DS/MLM mencari cara melebarkan bisnis Anda, merekrut yang lain dan menjadi mentor (Leader) adalah penting. Namun perekrutan tidak membuat Anda seketika sukses dalam bidang direct sales. Sebuah marketing plan / rencana kompensasi memerlukan penjualan produk untuk menjalankan rencana kompensasi itu sendiri. Baik penjualan tersebut dilakukan Anda ataupun grup Anda.

FAKTA :
Di Amerika terdapat 150 juta konsumen direct sales dalam satu tahun, hanya 15,6 juta diantaranya distributor, menyisakan banyak ruang untuk distributor untuk berkembang dan mengambil keuntungan (survey MORPACE International. Inc)

Mitos 3

Mereka yang terlibat bisnis direct sales karena ingin mendapatkan uang dengan mudah

Banyak alasan yang menjadikan Anda untuk menjalankan bisnisdirect sales. Mulai dari hanya mencari uang tambahan hingga menjadikan direct sales sebagai profesi utama atau hanya terlibat untuk mendapatkan produk dengan harga diskon.

FAKTA :
Direct sales adalah bisnis serius yang menghasilkan pendapatan dari jutaan hingga milyaran rupiah per distributor. Namun jangan mudah percaya kepada orang yang menyakinkan Anda bahwa dalam beberapa saat Anda menjadi kaya raya dengan sedikit usaha ataupun dengan melakukan investasi uang. Jangan pula percaya kepada orang yang menyatakan dengan bergabung saja sudah menghasilkan puluhan atau ratusan juta rupiah.

Direct sales adalah bisnis yang mengharuskan berinvestasi waktu dan tenaga sedemikian rupa hingga satu saat Anda sukses mencapai rancangan dan target yang disediakan. Perbedaan pada bisnis ini dengan bisnis lain adalah Anda mendapatkan kesempatan yang sama pada setiap orang untuk sukses dan keberhasilan bisnis tergantung kepada keseriusan Anda menjalani bukan pada kekuatan modal.

Dilain pihak, bisnis ini juga memungkinkan Anda dengan jelas melihat jenjang karier yang dapat diraih dan membuat estimasi pendapatan yang akan didapat.

Perusahaan direct sales yang sah terikat dengan kode etik yang jelas dalam menyampaikan potensi pendapatan dan setiap perusahaan harus menjalankan kode etik yang telah digariskan oleh pemerintah melalui perundangan dalam rangka perlindungan konsumen.

Mitos 4

DS/MLM hanya menghasilkan uang bagi mereka yang berada diposisi teratas

Mitos diatas sama seperti membandingkan berapa banyak karyawan upah minimum yang kemudian hari menjadi CEO sebuah perusahaan.

FAKTA :
Perusahaan yang memiliki rencana kompensasi yang baik atau “marketing plan” mampu memberikan pendapatan yang sesuai terlepas dari peringkat yang dicapai. Besarnya pendapatan berasal dari upaya yang dikeluarkan bukan dari peringkat.

 

Mitos 5

Skema Piramid / Money Game identik dengan MLM/DS

Sebuah struktur organisasi tidak bisa dijadikan patokan legalitas, bila iya maka struktur organisasi baik berupa swasta ataupun pemerintahan adalah ilegal, karena semakin tinggi peringkat akan semakin kerucut posisi yang tersedia sehingga terbentuk piramid.

FAKTA :
Sebuah skema disebut illegal bila tidak memiliki produk / layanan yang dijual dan dibayar berdasarkan perekrutan bukan berdasarkan penjualan.

MLM/DS yang benar adalah mereka memberikan bonus/komisi berdasarkan volume penjualan, sedangkan perekrutan sendiri berfungsi membesarkan volume pendapatan yang berasal dari volume penjualan grup.

Perusahaan MLM/DS yang legal wajib memberikan jaminan pembelian kembali “buy back guaranty” dan tidak melakukan penimbunan produk “inventories requirement”

Sumber : www.apli.co.id

Dua bulan terakhir yang menyentuh

Dua Bulan yang Berarti

Sebuah kisah dari negeri Cina :
Seorang gadis bernama Mei Fang baru saja menikah dengan seorang duda beranak satu, seorang anak laki-laki usia 8 tahun. Awal pernikahan tampak berbahagia, namun, setelah sebulan mulai terjadi konflik antara Mei Fang dengan anak tirinya. Makin hari konflik makin meruncing hingga membuat suami Mei Fang sedih. Di satu pihak adalah istrinya, tetapi di pihak lain adalah anaknya. Ia tidak bisa memilih salah satu, ia mencintai dua-duanya.

Pada suatu hari, sang anak sakit, sudah tiga hari kondisinya makin memburuk. Akhirnya oleh suami Mei Fang, anak tersebut dibawa ke seorang tabib bernama Tabib Huang. Ketika membawa anaknya, suami Mei Fang bertanya, "Tabib, apakah ada kemungkinan anak saya minum racun?".Tabib Huang terkejut dan bertanya "Memangnya anakmu minum racun?". Suami Mei Fang terdiam dan menitikkan air mata, "Aku kuatir istriku meracuni anakku. IStriku sangat membenci anakku. Anakku ini anak dari istriku terdahulu. Mereka berdua selalu bertengkar dan membuatku sedih", suami Mei Fang memaparkan kekuatirannya.

Tabib Huang lalu memeriksa anak tiri Mei Fang, "Anakmu sakit biasa, bukan karena racun. Anakmu hanya kurang nafsu makan. Ini saya beri obat penguat supaya mau makan banyak", Tabib Huang menjelaskan kepada suami Mei Fang. Suami Mei Fang menjadi gembira. "Katakan kepada istrimu, aku ingin bertemu. Aku akan menasihatinya. Tetapi kamu tidak boleh mencelanya atau menuduhnya meracuni anakmu lagi. Bersyukur saja jika nanti istrimu berubah menjadi baik", Tabib Huang memberikan pesan sekaligus nasihat kepada suami Mei Fang.

Singkat cerita Mei Fang kemudian pergi menemui Tabib Huang. "Apakah kamu meracuni anak tirimu?", tiba-tiba Tabib Huang bertanya dengan pertnyaan yang mengejutkan. "Oh tidak Tabib... saya tidak meracuni anak tiriku. Aku memang membencinya, tetapi aku tidak meracuninya", jawab Mei Fang ketakutan. Dalam hati Mei Fang bertanya-tanya mengapa Tabib Huang menuduhnya demikian? Oh apakah karena singkong yang aku masak itu? Aduh gimana nih? Begitulah Mei Fang kebingungan.

"Mei Fang, usia anak tirimu hanya tersisa dua bulan. Racun itu menggerogoti tubuhnya perlahan-lahan", kata Tabib Huang
"Tetapi aku tidak sengaja meracuninya", jawab Mei Fang menangis.
"Apakah kamu mau dituduh membunuh anak tirimu?", tanya Tabib Huang. Mei Fang menangis.
"Baiklah... sekarang aku akan menasihatimu bagaimana caranya agar suami dan tetanggamu tidak menuduhmu sebagai pembunuh anakmu", kata Tabib Huang
"Aku akan melakukan apa yang Tabib perintahkan", jawab Mei Fang sambil menangis.
"Kamu harus bersikap baik kepada anak tirimu. Selama sakit, mandikan dia. Masakkan masakan yang enak. Berkatalah yang lembut padanya. Sapalah setiap kali ada kesempatan. Bila perlu, kamu bernyanyi untuk menidurkannya", kata Tabib Huang
"Jika sikapmu baik padanya, maka jika sampai saat anakmu meninggal, tidak ada seorang pun yang akan menuduhmu meracuninya", Tabib Huang menambahkan.

Demikianlah Mei Fang melaksanakan perintah Tabib Huang dengan sungguh-sungguh. Setiap pagi ia menyiapkan air hangat untuk memandikan anak tirinya. Ia juga memandikan, memasak masakan yang enak, menyuapinya, bahkan juga menyanyikan agar anak tirinya tertidur. Mei Fang melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh. Melihat semua itu, suami Mei Fang menjadi gembira dan bersyukur. Anak tiri Mei Fang pun mulai merasakan kedekatan dan kasih terhadap Mei Fang. Mereka sering bercanda dan menyapa dengan riang. Perlahan-lahan anak tiri Mei Fang sembuh dan bisa bermain di luar rumah. Mei Fang senang melihatnya. Mei Fang terharu ketika ia mendengar anak tirinya bercerita kepada teman-temannya bahwa ibu tirinya adalah ibu terbaik yang ia miliki. Ia juga menceritakan besarnya kasih sayang Mei Fang terhadapnya. Tak terasa air mata Mei Fang mengalir karena bahagia.

Mei Fang hampir saja melupakan kata-kata Tabib Huang yang mengatakan bahwa usia anak tirinya hanya tinggal dua bulan jika saja Mei Fang tidak mendengar percakapan anak tirinya dengan teman-temannya. Mereka sedang membahas apa keinginan mereka sebelum mati.

"Sebelum aku mati, aku ingin menyewa tukang gambar untuk menggambar aku, ayah, dan Ibuku", kata anak tiri Mei Fang
"Ibumu kan sudah meninggal", sahut salah satu temannya
"Aku kan sekarang punya Ibu lagi. Ibu terbaik yang dikirim Tuhan untukku", jawab anak tiri Mei Fang

Mei Fang tiba-tiba teringat bahwa waktu untuk anak tirinya tinggal satu hari lagi. ia segera berlari menemui Tabib Huang sambil menangis terisak-isak. "Tabib.... tolonglah anakku. Aku tidak ingin ia mati. Aku sangat menyayanginya. Lakukan sesuatu agar anakku tidak mati. Aku bersedia mengorbankan nyawaku untuk keselamatannya", isak Mei Fang memohon kepada Tabib Huang. Tabib Huang tersenyum gembira, rencananya berhasil. Ia sudah mampu memberi sarana kepada Mei Fang hingga mampu membuka hati dan mencintai anak tirinya.

"Mei Fang..... sebetulnya anak tirimu tidak keracunan. Yang terjadi, racun itu ada di dalam hatimu. Tetapi, selama dua bulan kamu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh membersihkan racun di dalam hatimu, dengan menyayangi anakmu. Sekarang kamu pulang, bawa obat ini untuk penguat tubuh anakmu. Bukan hanya anakmu yang sembuh, tetapi kamu pun sudah sembuh", kata Tabib Huang. Mei Fang sangat gembira. Ia pulang, sesampai di rumah ia memeluk anaknya dengan penuh kegembiraan.

Sahabat,
Sesungguhnya anak hanyalah merespon perlakuan kita. Mereka akan merasakan apakah kita benar-benar menyayanginya ataukah menolaknya. Jika ingin melembutkan hati anak yang terasa keras. Juga untuk menakhlukkan sikap anak yang kadang tak terkendali, ternyata semua bisa dimulai dari diri kita. Perlakukan anak seolah-olah tinggal berusia dua bulan, maka setelah dua bulan, Anda akan merasakan betapa berartinya mereka bagi Anda. Besar kemungkinan anak pun akan mengalami perubahan ke arah lebih baik.

Bagaimana pengalaman Anda? Silakan Berbagi. Like dan Share ya....

Salam Hebat untuk Orangtua Indonesia

Innovation = Solving Invisible Problems

Pada awal adanya mobil, tidak ada wipernya, sehingga saat ada salju atau hujan ya bisa kacau balau, orang harus menjulurkan kepalanya ke samping dan melihat sejenak lalu menyetir lagi dalam kegelapannya.
Ditahun 1902, Mary Anderson, ketika berada di New York, melihat ini sebagai sebuah kesempatan, maka pada 1903 diciptakannya winshiled-wipernyang dipatenkannya. 

Bisa anda bayangkan menyetir mobil tanpa kipas pembersih saat ini? Ternyata butuh 20 tahunan sampai semua mobil mulai dibuat dengan windshield wiper. Karena walaupun penemuan itu luar biasa, orang terbiasa dengan mobil tanpa wiper, ya kalau salju atau hujan, berhenti berkendaraan, itu saja.Kebutuhan akan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, sering tidak terlalu diharapkan.

Orang terbiasa dengan keadaan itu, dan tidak melihat value yang hebat dalam penemuan itu.
Invisible Problems, adalah sesuatu yang sebenarnya butuh dibereskan, tetapi karena tidak ada yang memikirkannya, ya tidak dirasa perlu saat itu. 

Seperti juga ATM, yang dulu tidak ada, dan orang harus ke Bank mengambil uang. Atau seperti juga tissue sebagai pengganti sapu tangan. Atau jaman pembalut masih berupa kain yang harus dicuci.Inovasi membuat kita menemukan sesuatu yang ternyata sangat bermanfaat. Tetapi awalnya sering tidak terasa terlalu berguna, karena kita selalu berada pada “zona nyaman” kita, dan tidak melihat itu sebagai sebuah “problem”. Bahkan ada resistensi panjang dalam pemakaian inovasi itu.
Innovation adalah Solving Invisible Problems. 

Sebuah proses menyelesaikan persoalan yang awalnya tidak dianggap perlu untuk diselesaikan. Tatapi kalau sudah terpakai, kita heran dulu kok bisa ya "hidup tanpa itu"? Tentu teknologi bermain kuat pada banyak inovasi, tetapi teknologi bukan satu2nya faktor kunci. 

Kita, sebagai inovator, adalah faktor paling kunci, dalam menemukan “invisible problems” yang dapat kita selesaikan.
Salam inovasi.

Kebaikan orang tua sepanjang masa

 
Mari kita renungkan dan berbuatlah yg baik dan benar terhadap mereka (orang tua)
Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga htidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”
Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.
‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya ‘orang tua’ yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah. ‘Orang tua’ kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.

Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita, nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.
Muliakan ia selagi masih hidup, dan doakan jika telah tiada.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih BELUM TERLAMBAT untuk berbakti. Sebelum mereka kembali keharibaan Allah.
UANG bisa dicari, ilmu bisa di gali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali.

Siapa yang menolong kita ke surga

Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. Pada hari itu juga, saat saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik,

hampir saja membuatnya jatuh. "Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.
Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, "Akan kusuruh malaikat menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"

Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku, dan ada yg hanya menulis 3 huruf singkat, 'RIP'.

Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yg aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.

Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yg mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, lalu aku lihat anak2ku.. Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.

lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.

Namun, aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak2ku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku?

Oh Ya Allah Maafkan aku..
Hari ke 40 sejak aku tiada.
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.
Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan aku datang.

Lalu 15 tahun berlalu.
Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah diwajahnya, dia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa ini hari jumat, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis.. "Seandainya saja aku punya papah, pasti tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat mamah sakit2an mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil papahku, aku butuh papahku Ya Allah.." kertas itu basah, pasti karena airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku.. 

Sampai bertahun2 anak2 dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, agar aku selalu berbahagia diakherat sana.
Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..
Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik mereka..
“Anakku, papah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
“Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.

Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku istriku, maafkan aku.

Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, aku tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.

Lalu aku rebahkan diri disamping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak.. Aku matikan ponselku dan aku pejamkan mata.
maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku.. 

keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Powered by Blogger.

comment

My Blog List